Rasulullah saw Mustahil Salah

source from handphoneDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sering kali kita mendengar perkataan dari saudara seiman (islam) kita yang mengaku beriman kepada Rasulullah saw dan beriman kepada Al-Qur’an tetapi berkata seperti tidak beriman kepadanya. Perkataan yang terlontar dari mulut mereka adalah bahwa Rasulullah saw adalah manusia biasa, juga sama seperti kita dan itu berarti Rasulullah saw juga bisa salah sama halnya seperti kita yang juga bisa salah. Memang benar mereka beriman kepada beliau, sama seperti kita. Namun, perkataan seperti itu tetap saja melukai perasaan kita sebagai umat Rasulullah saw. walaupun perkataan tersebut berasal dari umat beliau juga. Terlebih lagi ketika mereka mencoba membenarkan perkataan mereka bahwa Rasulullah saw bisa salah dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang keliru.

Perdebatan pendapat kemudian muncul di antara umat Rasulullah saw. Apakah benar bahwa Rasulullah saw bisa salah ataukah Rasulullah saw mustahil salah. Perbedaan pendapat ini muncul di antara umat Rasulullah saw dan terkadang sering menimbulkan perdebatan dan pertengkaran dikarenakan masing-masing yang berpendapat memiliki landasan sehingga berani berpendapat demikian.

Di dalam ilmu logika, jika ada dua pendapat yang berbeda dan kedua-duanya mengatakan bahwa pendapatnya yang benar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu dari pendapat tersebut benar yang berarti kebenaran pendapat yang satu meniscayakan kesalahan pendapat yang satu, atau kedua-duanya dari pendapat tersebut salah. Kesimpulan tidak dapat ditarik bahwa kedua-dua dari pendapat tersebut benar, karena kedua-duanya saling berkontradiksi satu sama lain dan adalah sesuatu yang mustahil bahwa sesuatu yang berkontradiksi bertemu pada satu objek yang sama, yaitu Rasulullah bisa salah sekaligus mustahil salah. Jika kesimpulan yang diambil adalah kudua-dua pendapat tersebut adalah salah, maka haruslah ada opsi baru yang lain dan bukan merupakan dari pendapat kedua-duanya. Jika diperhatikan dari opsi pertama bahwa Rasulullah bisa salah dan opsi kedua bahwa Rasulullah mustahil salah, maka tidak ada opsi ketiga yang dapat ditawarkan yang merupakan opsi yang berbeda dari kedua opsi tersebut. Sehingga kesimpulan yang dapat ditarik dari kedua pandangan atau perbedaan pendapat tersebut adalah salah satu dari pendapat tersebut benar yang berarti menggugurkan pendapat yang satu bahwa pendapat tersebut benar. Hanya ada satu kebenaran dari dua pendapat yang berbeda dalam artian pendapat yang satu pasti salah. Untuk itu, penulis akan melakukan pembahasan untuk menemukan jawaban dari perbedaan pendapat tersebut.

Apakah Rasulullah saw bisa salah? Jika jawabannya adalah iya, lalu mengapa Allah swt. menunjuk seorang Rasul yang bisa salah? Padahal fungsi seorang Rasul di muka bumi adalah mengajarkan dan mengajak seluruh umat manusia kepada jalan kebenaran (Allah swt). Lantas jika Rasul Allah bisa salah, apa jaminan bahwa yang diperintahkan Rasul Allah selama ini dan yang telah kita jalankan sebagai sebuh ajaran adalah benar?. Bisa saja apa yang diperintahkannya adalah sesuatu yang salah dan kita selama ini telah menjalankan sesuatu yang salah itu, disebabkan Rasul Allah bisa salah. (tanpa bermaksud merendahkan-Nya) Apakah Allah swt. salah menunjuk seorang Rasul? Tentu saja jawabannya adalah tidak mungkin Allah swt. salah menunjuk Rasul.

Lalu bagaimana kita membantah “mereka” yang berkata : Rasul bisa salah dengan memakai landasan Al-Qur’an Surah ‘Abasa (80:1-2) : 1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Dan pada ayat berikutnya : 2. Karena telah datang seorang buta kepadanya.

Dari penjelasan tentang ayat tersebut, dikisahkan bahwa orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah saw. meminta ajaran-ajaran tentang islam; lalu Rasulullah saw. bermuka masam dan berpaling padanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagai teguran kepada Rasulullah saw.

Apakah benar Rasulullah saw. berpaling kepada orang buta tersebut dan bermuka masam kepadanya seperti dalam Surah ‘Abasa?

Lalu bagaimana kita menjelaskan bunyi Surah An Najam (53:1-5) : 1. Demi bintang ketika terbenam. 2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. 3. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. 4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). 5. Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat. Surat An Najam ini tentang Sumpah llah swt bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah benar.

Juga dalam surah Al Ahzab (33:21) : “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu….” Surah Al Qalam (68:4) : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar budi pekerti yang agung.” Surah Al Anbiyaa’ (21:107) : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

Mana mungkin surah ‘Abasa (80:1-2) bertentangan atau berkontradiksi dengan surah Al Ahzab (33:21), surah Al Qalam (68:4) dan surah Al Anbiyaa’ (21:107). Padahal kita tahu bahwa surah – surah di dalam Al-Qur’an saling mendukung dan menjelaskan satu sama lain dan mustahil saling bertentangan atau berkontradiksi.
Lalu bagaimana mengenai penjelasan surah ‘Abasa mengenai bermuka masamnya Rasulullah saw.? Dengan memakai logika sederhana, kata “dia” dalam bahasa Indonesia adalah menunjukkan kata ganti orang ke-tiga. Sehingga ketika ayat tersebut turun kepada Rasulullah saw. dari Allah swt. melalui malaikat jibril, maka kata “dia” yang bermuka masam dimaksudkan Allah swt. adalah orang ke-tiga selain Muhammad saw. yang berarti para pembesar Quraisy. Dari sini sudah jelas bahwa yang bermuka masam bukanlah Nabi Muhammad saw. melainkan para pembesar Quraisy.

Dan sekalipun yang dimaksudkan dalam surah ‘Abasa yang bermuka masam memang benar adalah Muhammad saw. Ini juga tidak serta-merta membenarkan pernyataan bahwa Rasulullah saw. bisa salah. Disebabkan Rasulullah saw. tidak sesat dan tidak keliru (An Najam:2). Hal ini berarti jika Rasulullah saw. bermuka masam dan berpaling seperti dalam surat ‘Abasa, bukanlah sesuatu hal yang salah disebabkan Rasulullah saw. tidak pernah mengikuti hawa nafsunya (An Najam:3) dan ini berarti marahnya Rasulullah saw. adalah karena Allah swt.

Wajar saja sering kali kita dapatkan sekelompok umat muslim dengan segala atribut keislaman yang melekat pada dirinya seperti surban, peci, baju gamis dan janggut yang terpelihara panjang dan lebat serta jidat yang hitam itu selalu bermuka masam dan hanya tersenyum hanya kepada kelompoknya saja. Fenomena ini bisa saja karena pahaman mereka yang mengatakan yang bermuka masam di dalam surah ‘abasa adalah Rasulullah saw. yang berarti itu adalah sunnah beliau yang wajib dihidupkan dan dikerjakan beramai-ramai (berjamaah). Padahal kita sama-sama tahu kalau senyum adalah ibadah. Lantas mana yang harus dikerjakan, bermuka masam atau senyum?

Tulisan ini bukanlah bermaksud membuktikan siapa yang dimaksudkan dalam surah ‘abasa yang bermuka masam. Melainkan membuktikan kesucian dan kesempurnaan Rasulullah saw. sebagai Rasul Allah sekaligus manusia sempurna yang mustahil bisa salah.

Hendaknya lewat ayat ini segala hujjah bisa mendapatkan jawaban. Bagaimana mungkin manusia suci yang telah Allah swt. sucikan dari dosa (Al Ahzab:33) bisa mencontohkan akhlak yang buruk sementara di dalam diri beliau ada suri tauladan yang baik (Al Ahzab:21). Bagaimana bisa Allah swt. dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Rasulullah saw. yang berbuat salah? (Al Ahzab:56) : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab:57) : “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s