DEMONSTRASI ITU FITRAH SEBAGAI MANUSIA

source from UNHASBeberapa hari terakhir, hampir di seluruh kota yang ada di Indonesia, ribuan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa (demonstrasi) menentang rencana Pemerintah untuk menaikkan harga BBM tanggal 1 April 2012. Hampir setiap hari selama 2 (dua) minggu berturut-turut puluhan, ratusan bahkan ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menyampaikan penolakannya terhadap rencana kenaikan BBM. Mereka berjalan kaki, menutup jalan, berorasi dengan pengeras suara dan membawa spanduk berisikan tuntutan penolakan terhadap kenaikan BBM, serta mengibarkan bendera organisasi sebagai simbol yang melakukan unjuk rasa. Tak sedikit pula dari mahasiswa yang merusak fasilitas umum jalan, menahan mobil berplat merah dan membakar fasilitas-fasilitas umum seperti pos polisi.

Pembatalan kenaikan BBM per 1 April diakui atau tidak merupakan jasa mahasiswa yang terus menerus turun ke jalan berdemonstrasi meneriakkan penolakannya terhadap rencana kenaikan BBM. Mereka turun ke jalan rela berpanas-panasan, basah karena kehujanan atau semburan air dari water cannon , kelaparan dan kehausan karena menahan rasa, berhadap-hadapan dengan Polisi dan TNI, remuk karena pentungan Polisi, mata perih karena gas air mata, dan dicaci maki oleh para pengguna jalan yang merasa terganggu ulah para mahasiswa yang menutup jalan bahkan sampai dicaci maki oleh sesama mahasiswa yang tidak sepakat dengan cara Mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Demonstrasi dapat diartikan sebagai suatu aksi peragaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menunjukkan cara kerja atau cara pemakaian sesuatu alat. Namun demonstrasi menurut UU No. 9 Tahun 1998 adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya secara demonstratif di muka umum. Akan tetapi pengertian demonstrasi di pahaman masyarakat umum mengalami pergeseran makna sehingga dijadikan sebagai pendalil tindakan anarkis. Demonstrasi kini dilekatkan dengan kata anarkis sehingga tujuan dari demonstrasi untuk menyampaikan aspirasi tidak lagi mendapatkan rasa simpati dari masyarakat.

Pro dan kontra mengenai demonstrasi mahasiswa sangatlah wajar terjadi di masyarakat. Setiap tindakan kita akan selalu dinilai oleh orang lain adalah tindakan yang benar/baik atau salah. Penghukuman tindakan benar atau salah tergantung pada alat epistemologi apa yang kita pakai untuk menilainya. Hanya saja yang perlu kita pahami bersama bahwa demonstrasi merupakan fitrah kita sebagai manusia. Tidak satu pun manusia diciptakan untuk tertindas dan juga tidak satu pun manusia rela ditindas karena manusia diciptakan merdeka. Secara sadar manusia merdeka menentukan pilihannya sendiri tanpa paksaan. Sebuah analogi sederhana adalah ketika kaki kita diinjak oleh orang lain, maka kita akan berteriak kesakitan dan memberitahukan kepada yang menginjak kaki untuk melepaskan injakan kakinya karena kaki kita terasa sakit. Jika masih tetap saja diinjak, maka kita akan menarik paksa kaki kita atau mendorong orang tersebut sampai melepaskan injakannya. Berteriak, memberitahukan rasa sakit, dan melawan adalah fitrah manusia ketika merasa kesakitan dikarenakan orang lain. Analogi sederhana di atas juga berlaku ketika hak-hak kita sebagai warga Negara diinjak-injak oleh Pemerintah. Hak untuk mendapatkan perlakuan hukum yang tidak diskriminatif, hak mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghidupan yang layak, hak mendapatkan pendidikan, dan hak menyampaikan pendapat. Semua hak tersebut bagi masyarakat yang tidak mampu akan tercabut jika BBM dinaikkan oleh Pemerintah. Dampak sistematik dari kenaikan BBM adalah menciptakan banyak kepala rumah tangga tidak mampu yang baru dan kepala rumah tangga yang tidak mampu sebelumnya menjadi semakin tidak mampu lagi sehingga hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, penghidupan yang layak dan pendidikan yang layak semakin jauh api dari panggang. Hanya saja berbeda dengan kasus kaki yang terinjak, jika hak-hak yang terinjak maka rasa sakit yang didapatkan tidak terasa langsung dan nyata terasa seperti kaki yang terinjak. Hak-hak bersifat metafisis sehingga akibatnya juga bersifat metafisis dan untuk memahami hubungan kausalitasnya diperlukan kajian akal untuk merasakan rasa sakit ketika hak-hak yang terinjak.

Mahasiswa yang sadar dan melihat dampak dari kenaikan BBM dengan akalnya pasti akan turun ke jalan melakukan demonstrasi. Seperti yang tadi saya bahasakan karena demonstrasi adalah fitrah sebagai manusia. Mahasiswa yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai Agen of change, moral force, social control dan iron stock akan turun meneriakkan aspirasinya di jalanan. Tentu saja untuk menyampaikan aspirasi tidak harus dengan berdemonstrasi di jalan, banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk menyampaikan aspirasi kita. Akan tetapi, mahasiswa yang berdiam diri dan tidak melakukan sesuatu adalah mahasiswa yang sepakat kepada pemerintah yang akan mencabut hak masyarakat yang tidak mampu karena seperti yang kita pelajari bersama dalam hukum kontrak bahwa berdiam diri juga termasuk menunjukkan kata sepakat dalam perikatan. Demonstrasi mahasiswa sejatinya menyampaikan aspirasi dan tindakan anarkis seharusnya jauh dari kesan mahasiswa yang berdemonstrasi karena mahasiswa adalah kaum intelektual. Budaya ketimuran bangsa kita yang mengedepankan sopan santun menyebabkan labelisasi negatif terhadap demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Hanya saja tindakan anarkisme di jalanan pada saat demonstrasi mahasiswa bisa saja sebagai bentuk akumulatif dan kejenuhan melihat pemerintahan Indonesia hari ini yang tidak mau mendengar curhatan rakyatnya tetapi hanya pemerintah yang ingin didengar curhatannya oleh rakyat dan juga semakin banyaknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di pemerintahan.

Tujuan dari mahasiswa yang berdemonstrasi itu baik karena memperjuangkan hak-hak orang lain. Hanya saja jika demonstrasi harus selalu berujung pada tindakan anarkis akan menimbulkan antipasti dari masyarakat. Akan tetapi tindakan demontrasi yang berujung anarkis tidak semua karena ulah dari mahasiswa. Banyak faktor yang menyebabkan demonstrasi berubah jadi tindakan anarkis atau bentrok dengan aparat. Salah satunya karena ulah provokator yang masuk ke dalam rombongan mahasiswa. Ditengah teriknya matahari dan tulinya pemerintah merespon aspirasi dari mahasiswa bisa saja menyebabkan mahasiswa tidak ketat mengawasi rombongannya sehingga mudah disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun pro dan kontra terhadap demonstrasi mahasiswa tetap bergulir menjadi wacana dikalangan masyarakat dan mahasiswa akan tetapi demonstrasi mahasiswa tidak akan pernah mati dan akan tetap terus ada selama pemerintahan di Indonesia masih tidak pro terhadap rakyat. Akan masih ada jika pemerintah di Indonesia masih dipimpin oleh orang-orang dzalim yang senang mengdzalimi rakyatnya sendiri. Bait lagu “berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti”.. masih akan tetap diteriakkan dan dinyanyikan mahasiswa ketika berdemonstrasi di jalan sampai pemerintah di Indonesia dapat mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah swt.

2 thoughts on “DEMONSTRASI ITU FITRAH SEBAGAI MANUSIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s