Falsafah Kenabian dalam perspektif

source from google.com

Menurut kaum Al-Askari

Menurutnya Nabi itu ditunjuk oleh Tuhan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu yang dimiliki karena akal itu sifatnya terbatas. Dan karena akal terbatas, oleh sebab itu akal tidak bisa mengetahui benar dan salah. Atau dalam arti, sebuah dzat tidak bersifat jelas baik dan buruknya secara hakiki. Sesuatu diketahui benar dan salah itu karena adanya wahyu di dalam Al-Qur’an.

Contohnya khamar dan madu.
Khamar dan madu pada hakekatnya tidak diketahui baik atau buruk. Nanti setelah wahyu mengatakan khamar itu haram maka akal kemudian mengetahui kalau khamar itu buruk. Seandainya wahyu mengharamkan madu di dalam Al-Qur’an maka yang tidak baik untuk manusia itu madu bukan khamar.

Jadi menurutnya, siapa pun yang ditunjuk Tuhan sebagai Nabi itu terserah Dia. Walaupun pembunuh atau penjahat sekali pun itu bisa menjadi Nabi, karena Tuhan itu maha Pengampun.

Menurut kaum Mutazila

Akal itu tidak terbatas dan akal dapat mengetahui baik dan buruknya sesuatu. Baik dan buruknya sesuatu itu bersifat dzati dan jelas. Menurutnya, karena khamar itu buruk untuk manusia makanya dikatakan haram oleh wahyu. Begitu pun sebaliknya, pada madu.

Kalau Tuhan menunjuk seseorang menjadi Nabi, maka Tuhan tidak adil. Karena kita semua memiliki posisi dan peluang yang sama besar untuk bisa ditunjuk sebagai Nabi. Lantas kenapa harus dia dan bukan saya? Apa alasannya?

Menurutnya, seseorang dijadikan Nabi bukan karena ditunjuk oleh Tuhan, melainkan karena ikhtiar seseorang tersebut. Karena akalnya cerdas dan pengetahuannya tinggi sehingga mampu membedakan baik dan salahnya sesuatu, maka ia ditunjuk sebagai Nabi.

Pada titik ekstrim atau kaum mutazila ekstrim berpendapat bahwa nabi pada dasarnya itu tidak ada. Yang ada itu orang cerdas pada zamannya. Wahyu itu hanya diturunkan kepada orang awam dan tidak kepada orang cerdas. Itulah sebabnya wahyu sudah tidak ada lagi sekarang karena menurutnya wahyu hanyalah perkataan orang-orang cerdas. Menurtnya, Nabi sudah tidak ada lagi dikarenakan sudah ada teknologi atau sains yang mampu menjawab atau membedakan hakekat baik dan buruknya sesuatu. Nabi tidak ada bedanya dengan para pemikir atau kaum filosof.

Menurut ibn sina

Ibn sina mencoba menjelaskan bagaimana Nabi bisa dikatakan sebagai Nabi melalui pendekatan filsafat. Ibn sina kemudian membagi tiga tingkatan jiwa berdasarkan kualitasnya:

1. Jiwa tumbuhan

Jiwa tumbuhan ini ada pada bayi yang dimana jiwa bayi sama dengan jiwa tumbuhan yang hanya memiliki daya makan dan minum atau daya nutrisi.

2. Jiwa binatang

Jiwa binatang kemudian selain memiliki daya nutrisi (makan dan minum), jiwa binatang juga memiliki daya syahwat atau nafsu.

3. Jiwa manusia

Jiwa manusia lebih kompleks karena memiliki daya nutrisi, daya nafsu dan daya fikir. Daya fikir inilah yang membedakan manusia dengan binatang dan tumbuhan.

Manusia berfikir dengan akal, sementara itu akal pun dibagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan kualitasnya:

1. Akal potensial

Akal potensial adalah akal yang hanya bisa memahami sesuatu kalau sesuatu itu memiliki bentuk.

2. Akal actual

Akal yang telah dapat memahami hal-hal yang abstrak atau universal/hakekat-hakekat walaupun masih dalam proses berfikir. Akal ptensial hanya akan menjadi akal actual apabila ia identik dengan akal universal (akal ideal) dan berinteraksi dengan akal aktif (malaikat jibril) maka akal potensi kemudian teraktual menjadi akal actual.

3. Akal mustafat

Akal yang memahami hakekat dengan cara huduri atau tidak terpisahnya antara subjek dan objek pengetahuan. Subjek dan objek sudah melebur menjadi satu. Sehingga mustahil terjadi kesalahan di dalam memahami objek pengetahuan dikarenakan obek itu adalah subjek itu sendiri. Akal ini hanya bisa di dapatkan melalui proses mensucikan diri. Dan inilah akal para Nabi.

Jadi manusia itu bisa sampai pada akal mustafat (akal yang mustahil terjadi kesalahan di dalam memahami sesuatu karena pada akal mustafat itu menyaksikan langsung hakekat-hakekat), melalui ikhtiar mensucikan diri.

Tuhan tidak menunjuk Nabi secara sembarangan. Karena yang pantas menjadi Nabi itu adalah yang memiliki sifat mustahil salah walau sekecil pun dalam mengartikan wahyu-wahyu-Nya. Karena Nabi merupakan Khalifah atau perpanjangan tangan Tuhan kepada umat manusia. Dalam artian salah satu syarat untuk menjadi seorang Nabi dan ini merupakan syarat yang mutlak yang harus dimiliki oleh setiap Nabi-Nabi Tuhan adalah mustahil salah atau ma’sum.

Yang mengetahui kapasitas pengetahuan manusia (makhluk-Nya) itu adalah tuhan itu sendiri. Jadi Tuhan menunjuk Nabi karena ikhtiarnya sehingga ia bisa menjadi Nabi.

MEREKA YANG MENDENGAR SUATU PERKATAAN LALU MENGIKUTI YANG TERBAIK DI ANTARANYA, MAKA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG DIBERIKAN HIDAYAH OLEH ALLAH DAN MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG BERFIKIR. (39:18)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s